Berita · 3 November 2026

Ye Live in Jakarta: Arti Konser Ye di GBK bagi Industri Konser Jakarta

Raw Vision Collective membawa Globe Stage 360° milik Ye ke GBK pada 24 Oktober 2026. Ini angka-angkanya dan apa artinya bagi industri live event Jakarta.

Siluet penampil di puncak kubah Globe Stage dengan latar proyeksi awan

Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Ye (sebelumnya Kanye West) menggelar konser perdananya di Indonesia, Ye Live in Jakarta, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Jakarta menjadi satu-satunya kota Asia Tenggara dalam Ye Live Concert Tour 2026, tur untuk album Bully. Status eksklusif ini mengubah konser tersebut menjadi destinasi tingkat regional.

Promotor: Raw Vision Collective

Konser ini dipromotori Raw Vision Collective, promotor asal Jakarta yang dipimpin CEO Micha Ananda. Mitra ticketing PT Global Loket Sejahtera (Loket) juga tercantum di agenda EKRAF Hub Kementerian Ekonomi Kreatif. Rolling Stone Philippines mencatat Raw Vision bergerak relatif independen dari raksasa global seperti Live Nation dan AEG.

Sebelum konser, tim ini menggelar Bully listening party resmi di Jakarta pada April. Menurut Rolling Stone Philippines, mereka juga menghabiskan sebulan bersama tim Ye di Los Angeles sebelum booking-nya terkunci. Sejak awal, Raw Vision memposisikan konser ini sebagai tujuan perjalanan bagi penggemar dari Asia Tenggara dan Australia. Pemasarannya menonjolkan penerbangan langsung ke Jakarta dan menawarkan paket resmi tiket plus hotel.

Pertunjukannya

Produksi berpusat pada Globe Stage khas Ye: struktur kubah 360 derajat di tengah stadion, dengan penonton mengelilinginya. Menurut Tempo, kubah ini didatangkan langsung dari luar negeri. Ye membuka konser dengan lagu “King” dan membawakan sekitar 30 lagu. Penonton juga menyebut banyak kembang api sepanjang pertunjukan.

Angka-angkanya

Menurut data Raw Vision Collective yang dikutip berbagai media:

  • Sekitar 70.000 penonton, termasuk kurang lebih 25.000 wisatawan mancanegara dari 80 negara.
  • Lima negara asal teratas adalah Australia, Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand.
  • Okupansi hotel di sekitar lokasi dilaporkan mendekati 100%, menurut PHRI DKI Jakarta.

Ditjen Imigrasi mencatat sekitar 25.000 kedatangan WNA pada 21–24 Oktober, dengan puncak sekitar 10.000 orang sehari sebelum konser. Imigrasi juga menerbitkan 88 visa performer untuk Ye dan krunya. MRT Jakarta memperpanjang jam operasional hingga 01.30, dan Transjakarta menambah armada.

Angka dampak ekonominya berbeda tergantung sumber. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut penjualan tiket sekitar Rp328 miliar, dengan total dampak sekitar Rp450 miliar. Kementerian Pariwisata, mengutip data Raw Vision dan PHRI, menyebut perputaran ekonomi sekitar Rp600 miliar, dengan sekitar 5.000 tenaga kerja terlibat di produksi dan operasional.

Ye tetap sosok yang kontroversial. Awal 2026 ia dilarang masuk ke Inggris, dan beberapa jadwal turnya di tempat lain dibatalkan. Meski begitu, permintaan dari Asia tetap tinggi.

Apa artinya bagi industri konser Jakarta

  1. Jakarta sebagai hub konser regional. Satu-satunya pemberhentian di Asia Tenggara berhasil menarik puluhan ribu penggemar internasional. Ini memperkuat alasan untuk membawa lebih banyak konser stadion eksklusif ke Jakarta, bukan ke Singapura atau Bangkok. Pemerintah juga jelas memperhatikan: konser ini termasuk lebih dari 25 event internasional yang didukung program Event by Indonesia Kementerian Pariwisata.
  2. Promotor lokal mampu di skala stadion. Promotor independen Indonesia sukses menggelar konser stadion dari sebuah tur dunia. Mereka juga mengemas perjalanan, hotel, dan side event di sekitar konser. Ini menaikkan standar bagi skena lokal.
  3. Infrastruktur siap. Perpanjangan jam MRT, tambahan armada Transjakarta, dan penanganan imigrasi yang cepat membuktikan GBK dan kota ini mampu memindahkan 70.000 penonton.
  4. Standar produksi terus naik. Panggung tur 360° dan desain visual imersif kini menjadi ekspektasi penonton. Bagi tim produksi lokal, banyaknya kru yang terlibat, dari rigging dan power hingga lighting, video, dan special effects, menunjukkan lapangan kerja yang tercipta dari konser seperti ini. Ulasan juga mencatat masalah suara di area festival, pengingat bahwa desain audio dan visual skala stadion tetap butuh perencanaan matang.

Bagi brand, EO, dan venue, pelajarannya jelas: konser di Jakarta kini adalah produk wisata internasional. Kualitas produksinya harus sepadan.

Sumber